Saat Ujian Datang: Menjaga Iman dan Menata Kembali Kehidupan

A man in white clothing kneeling in prayer inside a mosque, Indonesia.

Menyikapi Musibah Tanpa Menduga-duga Ketetapan Allah

Datangnya musibah kerap memunculkan pertanyaan tentang alasan dan hikmah di baliknya. Akan tetapi, sumber yang tersedia tidak menyatakan bahwa setiap musibah selalu mempunyai satu sebab atau tujuan khusus yang dapat dipastikan. Oleh sebab itu, tidak tepat jika kita menetapkan alasan tertentu tanpa keterangan yang jelas. [1][2][3]

Daripada sibuk menebak perkara yang tidak diterangkan, seorang Muslim sebaiknya memusatkan perhatian pada sikap yang dapat ditempuh: memelihara iman, bertawakal kepada Allah, menegakkan ibadah, meningkatkan ketakwaan, memperbaiki kesalahan, serta menjaga akhlak kepada sesama. [1][2][3]

Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj: 18: [3]

وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ [3]

“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apapun yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18) [3]

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Meski demikian, sumber yang ada tidak menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa suatu musibah tertentu pasti merupakan hukuman, bentuk kehinaan, atau ketetapan dengan tujuan khusus tertentu. Pembahasan mengenai musibah perlu tetap berada dalam batas keterangan yang tersedia. [3]

Karena itu, kita semestinya tidak mudah menghakimi seseorang yang sedang mengalami kesulitan. Sikap yang memiliki landasan lebih jelas ialah mengarahkannya kepada iman, tawakal, ketaatan, perbaikan diri, dan akhlak yang baik. [1][2][3]

Kembali Menyadari Kedudukan sebagai Hamba

Tujuan kehidupan manusia adalah mewujudkan penghambaan kepada Allah. Penghambaan tersebut dibangun di atas puncak perendahan diri sekaligus puncak kecintaan kepada-Nya. [1]

Ibadah kepada Allah mencakup seluruh perkara yang mendatangkan keridaan-Nya, baik dalam bentuk keyakinan, ucapan, maupun perbuatan anggota badan. Orang yang mencintai dan merendahkan diri kepada Allah akan menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, mengerjakan hal yang dicintai-Nya, serta meninggalkan apa yang dibenci-Nya. [1]

Dalam kerangka penghambaan ini, masa sulit dapat menjadi kesempatan untuk meninjau kembali arah kehidupan. Seorang Muslim dapat memeriksa apakah imannya tetap terpelihara, ibadahnya masih ditegakkan, dan ketergantungannya kepada Allah semakin kuat atau justru melemah. Evaluasi semacam ini sesuai dengan tuntunan agar seseorang beriman secara lahir dan batin serta menjalani hidup sebagai hamba Allah. [1]

Musibah tidak semestinya dijadikan alasan untuk meninggalkan ketaatan. Bagaimanapun keadaan yang sedang dialami, arah hidup orang beriman tetap tertuju pada penghambaan melalui keyakinan, perkataan, dan perbuatan yang diridhai Allah. [1]

Menguatkan Iman dan Tawakal

Sifat orang-orang beriman digambarkan Allah dalam QS. Al-Anfal: 2: [1]

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ [1]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2) [1]

Ayat ini memperlihatkan kaitan antara mengingat Allah, bertambahnya keimanan, dan tawakal kepada-Nya. Ketika berada dalam situasi berat, seorang Muslim memiliki pegangan yang terang: mengingat Allah, menjadikan ayat-ayat-Nya sebagai penguat iman, lalu menyerahkan urusannya kepada Rabbnya. [1]

Tawakal bukanlah sikap yang terpisah dari amal nyata. Iman memiliki dimensi batin dan lahir, sementara ibadah meliputi keyakinan, ucapan, serta perbuatan. Dengan demikian, tawakal harus berjalan beriringan dengan ketaatan dan tindakan yang diridhai Allah. [1]

Sumber yang tersedia juga memuat penjelasan mengenai perintah beriman secara lahir dan batin. Imam al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa maksudnya adalah, “janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman”. [1]

Dengan demikian, perhatian seorang Muslim tidak hanya tertuju pada kapan kesulitan akan berakhir. Hal yang jauh lebih penting adalah memelihara iman sepanjang hidup. [1]

Memelihara Cabang-Cabang Iman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah termasuk cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]

Keterangan tersebut menunjukkan luasnya cabang iman. Tingkat tertingginya adalah ucapan tauhid, sedangkan tindakan sederhana seperti menyingkirkan gangguan dari jalan juga termasuk di dalamnya. Rasa malu pun disebut sebagai salah satu cabang iman. [1]

Oleh karena itu, menjaga iman ketika tertimpa musibah tidak hanya berlangsung di dalam hati. Perkataan dan perbuatan baik juga harus dipertahankan. Bahkan, tindakan sederhana yang membawa manfaat bagi orang lain merupakan bagian dari cabang iman. [1]

Tetap Memegang Fondasi Utama Islam

Kesulitan tidak membuat fondasi kehidupan beragama kehilangan arti pentingnya. Dari Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan salat; menunaikan zakat; menunaikan haji (ke Baitullah); dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [2]

Dua kalimat syahadat merupakan rukun Islam yang paling agung sekaligus simbol tauhid. Setelah syahadat, salat menjadi rukun Islam yang paling agung. Zakat berfungsi menyucikan jiwa dan harta, haji merupakan rukun sekaligus syiar besar Islam, sedangkan puasa Ramadan termasuk rukun Islam dan menjadi keistimewaan umat Islam. [2]

Hadis tersebut memperlihatkan bahwa menyikapi kesulitan tidak cukup hanya dengan melakukan perenungan. Seorang Muslim tetap perlu menjaga fondasi agamanya sesuai kemampuan dan ketentuan yang berlaku. [2]

Mengarahkan Evaluasi Diri kepada Perbaikan

Masa-masa sulit dapat dipakai untuk menilai kembali hubungan seorang hamba dengan Allah. Jika ia menemukan kesalahan atau keburukan dalam dirinya, hal itu bukan berarti kesempatan memperbaiki diri telah berakhir. Tuntunan yang tersedia justru memerintahkan agar keburukan disusul dengan kebaikan. [3]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Jika kamu melakukan keburukan, maka ikutilah dengan kebaikan, karena kebaikan itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987) [3]

Terdapat tiga pedoman dalam hadis tersebut yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi, yaitu bertakwa kepada Allah di mana pun berada, menyusul keburukan dengan kebaikan, dan berinteraksi dengan manusia menggunakan akhlak yang baik. [3]

Evaluasi diri ketika musibah datang semestinya menghasilkan perbaikan, bukan klaim bahwa seseorang telah mengetahui secara pasti alasan Allah menetapkan kejadian tersebut. Langkah yang dapat dilakukan adalah menambah amal kebaikan, menjaga ketakwaan, dan membenahi hubungan dengan sesama. [3]

Akhlak Baik Tetap Dijaga di Tengah Kesulitan

Musibah pribadi tidak menghapus kewajiban untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Hadis mengenai ketakwaan menyatukan tiga perkara penting: hubungan dengan Allah, perbaikan setelah melakukan keburukan, dan akhlak dalam pergaulan. [3]

Karena itu, seseorang yang sedang menghadapi ujian tetap diarahkan untuk menjaga perilakunya kepada sesama. Hadis tentang cabang iman juga menerangkan bahwa tindakan menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk bagian dari iman. [1][3]

Masa sulit tidak seharusnya menghentikan seseorang dari berbuat baik. Peluang beramal tetap dapat ditemukan melalui tindakan sederhana, termasuk menghilangkan gangguan dan memelihara akhlak dalam kehidupan bersama. [1][3]

Penutup

Tidak ada keterangan dalam sumber yang tersedia bahwa seluruh musibah memiliki satu alasan khusus yang dapat dipastikan manusia. Maka, seorang Muslim tidak perlu berspekulasi mengenai maksud tertentu di balik suatu kejadian ataupun tergesa-gesa menilai orang yang sedang tertimpa kesulitan. [1][2][3]

Hal yang dapat dipastikan ialah bahwa kehidupan manusia diarahkan untuk mengabdi kepada Allah melalui keyakinan, ucapan, dan amal yang diridhai-Nya. Orang beriman mengingat Allah, memperoleh tambahan iman ketika ayat-ayat-Nya dibacakan, serta bertawakal kepada Rabbnya. [1]

Ketika musibah datang, peliharalah iman secara lahir dan batin, tegakkan fondasi ibadah, jagalah ketakwaan dalam setiap keadaan, susul keburukan dengan kebaikan, dan pertahankan akhlak mulia kepada manusia. Dengan cara itulah masa sulit dijalani sebagai seorang hamba yang senantiasa mengarahkan hidupnya kepada Allah. [1][2][3]

Referensi

[1] Muslim.or.id — Hijrah Menuju Allah dan Rasul-Nya (https://muslim.or.id/58272-hijrah-menuju-allah-dan-rasul-nya.html)
[2] Muslim.or.id — Penjelasan Hadis Arba’in An-Nawawiyah (Bag. 4): Hadis 3, Islam Dibangun di Atas Lima Perkara (https://muslim.or.id/115640-penjelasan-hadis-arbain-4.html)
[3] Muslim.or.id — Akankah Aku Akan Bermaksiat Lagi Selepas Ramadan? (https://muslim.or.id/112959-akankah-aku-akan-bermaksiat-lagi-selepas-ramadan.html)
[4] Muslim.or.id — Kaidah Ushul Fikih: An-Nahyu (Larangan) Menghasilkan Hukum Haram (https://muslim.or.id/113030-kaidah-ushul-fikih-annahyu-larangan-menghasilkan-hukum-haram.html)

Categories

Yuk sedekah untuk program bermanfaat elssi peduli