KISAH HIJRAH JA’FAR BIN ABI THOLIB KE HABASYAH

Gambar. Kisah Hijrah Ja'far bin Abi Thalib. www.elssipeduli.id

Ja’far bin Abi Tholib dan istrinya Asma binti Umais termasuk generasi pertama yang masuk Islam berkat ajakan Abu Bakar rodhiyallohu’anhu. Mereka merasakan siksaan kaum Quraisy sebagaimana dirasakan oleh muslimin yang lain dan tetap tegar bersabar menghadapinya. Akan tetapi kaum Quraisy terus menghalangi mereka untuk beribadah. Akhirnya Rosululloh ﷺ mengizinkan Ja’far untuk berhijrah bersama istri dan beberapa orang sahabat lainnya ke negeri Habasyah. Mereka tinggal di sana dengan jaminan keamanan Najasyi, Raja Habasyah yang dikenal adil.

Ummu Salamah rodhiyallohu’anha menceritakan kisah yang ia saksikan. Ia berkata: “Begitu tiba di Habasyah, kami mendapatkan perlindungan yang amat baik hingga kami merasa aman dalam beribadah. Begitu Quraisy mendengar kabar ini, mereka mengirim dua orang utusan yaitu: Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah dengan dibekali hadiah yang akan diberikan kepada Najasyi dan para pemuka agama. Kaum Quraisy juga berpesan agar mereka memberikan hadiah kepada para pemuka agama terlebih dahulu sebelum mereka menghadap Najasyi”. Begitu keduanya tiba di Habasyah, mereka menemui para pemuka agama dan memberikan hadiah kepada masing-masing dengan berkata:

“Ada beberapa budak bodoh kami yang berlindung di negara raja. Mereka telah keluar dari agama moyang mereka. Jika kami berbicara kepada raja kalian tentang para budak ini, maka beritahukanlah raja kalian untuk menyerahkan budak-budak ini kepada kami tanpa perlu menanyakan agama mereka. Karena para pemimpin kaum mereka amat mengerti tentang kondisi para budak ini dan apa yang mereka anut.” Para pemuka agama tersebut menyetujuinya.

Ummu Salamah berkata: “Tidak ada yang lebih kami benci selain Amr dan sahabatnya pada saat Najasyi memanggil kami untuk mendengarkan pembicaraannya. Kemudian keduanya menghadap Najasyi dan memberikan hadiah kepadanya. Raja Najasyi amat senang dengan hadiah itu. Keduanya lalu berbincang dengan Najasyi seraya mengatakan: “Wahai raja, di negeri Anda telah berlindung beberapa budak negeri kami. Mereka datang ke sini membawa agama yang tidak kami ketahui sebagaimana engkau pun tidak mengetahuinya. Mereka meninggalkan agama kami namun tidak masuk agamamu. Kami diutus untuk menghadapmu oleh keluarga mereka agar engkau berkenan memulangkan mereka.”

Najasyi lalu melihat ke arah para pemuka agama, dan para pemuka agama itu mengatakan: “Keduanya benar, wahai raja! Kaum mereka lebih paham apa yang telah dilakukan oleh para budak ini. Maka kembalikanlah para budak ini kepada mereka biar mereka sendiri yang memutuskannya!”

Baca Artikel Lainnya!

Lalu murkalah sang raja dengan ucapan para pemuka agama ini, ia berkata kepada mereka: “Demi Alloh, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada siapapun sampai aku menanyakan mereka apa yang dituduhkan kepada mereka. Jika benar seperti apa yang dikatakan oleh kedua orang ini, maka aku akan serahkan. Jika tidak demikian, maka aku akan lindungi mereka”. 

Ummu Salamah mengisahkan: “Kemudian Najasyi memanggil kami untuk menghadapnya. Kami pun berangkat untuk menghadap Najasyi dan ia juga telah mengundang para pemuka agama. Mereka semua duduk di samping Najasyi. Mereka pun membuka kitab di hadapan mereka. Kami juga melihat ada Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah di dekat raja.”

Begitu kami tiba di majlis, Najasyi melihat kami dan bertanya: “Apakah agama yang baru kalian anut hingga kalian meninggalkan agama kaum kalian, tidak membuat kalian masuk ke dalam agamaku, juga tidak masuk suatu agama pun yang dikenal manusia?”

Lalu Ja’far berkata: “Wahai raja, Kami dahulu adalah kaum jahiliah yang menyembah berhala dan memakan bangkai. Kami melakukan perbuatan keji dan memutus silaturahmi. Yang kuat di antara kami akan memangsa yang lemah. Kami hidup terus-menerus seperti itu sampai Alloh ﷻ mengutus seorang Rosul kepada kami yang kami kenal nasab, kejujuran, dan amanahnya. Ia mengajak kami ke jalan Alloh, mengesakan dan menyembah-Nya dan meninggalkan berhala yang pernah kami sembah. Rosul ini memerintahkan kami untuk berkata jujur dan menunaikan amanah. Ia juga menyuruh kami untuk menghubungkan silaturahmi, bertetangga dengan baik, menolak perbuatan haram dan pertumpahan darah. Ia juga melarang kami mengerjakan perbuatan keji, memakan harta anak yatim dan menuduh wanita yang terhormat. Rosul tadi memerintahkan kami untuk beribadah kepada Alloh ﷻ dan agar kami tidak melakukan kesyirikan. Kami juga diperintahkan untuk mendirikan sholat, menunaikan zakat dan berpuasa Romadhon. Kami beriman kepadanya. Kami mengikuti Rosul tadi dengan apa yang diwahyukan kepadanya. Maka kami menjalankan apa yang halal, dan kami menolak apa yang haram. Kaum kami sendiri menyiksa kami dengan sangat kejam untuk mengembalikan kami kepada penyembahan berhala. Mereka juga menghalangi kami untuk melakukan ibadah. Maka kami pun keluar dari tanah air kami menuju negerimu dengan berharap perlindunganmu.”

Ummu Salamah berkata: “Najasyi melihat Ja’far dan bertanya: “Apakah ada yang kalian bawa dari apa yang disampaikan oleh Nabi kalian dari sisi Alloh?”

Ja’far menjawab: “Ya.”

Najasyi berkata: “Bacakanlah kepadaku!”

Maka Ja’far pun membacakan: “Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shood. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakariya. Yaitu ketika ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata:”Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu wahai Tuhanku…” (QS. Maryam [19] :1-4) Ja’far membaca sampai bagian tertentu.

Ummu Salamah berkisah: “Najasyi menangis sampai janggutnya basah. Para pemuka agama juga menangis sampai kitab-kitab mereka pun basah. Mereka semua menangis begitu mendengarkan Kalamullah. Pada saat itulah Najasyi berkata kepada kami: “Apa yang dibawa oleh Nabi kalian dan apa yang telah dibawa oleh Isa berasal dari sumber yang sama!” Kemudian Najasyi menoleh ke arah Amr dan sahabatnya lalu berkata kepada mereka berdua: “Pergilah kalian berdua! Demi Alloh, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian untuk selamanya!”

Ummu Salamah berkata: “Begitu kami keluar dari ruangan Najasyi, Amr bin Ash berkata kepada sahabatnya dengan mengancam kami: “Demi Alloh, aku akan datang kepada Raja esok hari. Aku akan menceritakan kepadanya tentang hal yang dapat menimbulkan kebencian raja kepada mereka bahwa mereka menganggap Isa bin Maryam adalah seorang hamba!!”

Keesokan harinya, Amr datang menghadap Najasyi dan berkata kepadanya: “Wahai raja, orang-orang yang engkau beri perlindungan itu mengatakan perkataan keji tentang Isa bin Maryam. Kalau tidak percaya, tanyakanlah sendiri apa yang mereka katakan terhadap Isa bin Maryam!”

Ummu Salamah berkata: “Begitu kami mengetahui hal ini, kami merasa amat khawatir dan kami belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Sebagian kami berkata: “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam jika raja menanyakannya?” Kami pun menjawab: “Demi Alloh, kami tidak akan menjawab kecuali seperti apa yang telah Alloh firmankan. Kami tidak akan keluar dari perintah-Nya meski hanya seujung jari sebagaimana yang telah disampaikan oleh Nabi kita, apapun konsekuensinya!”

Begitu Najasyi memanggil, maka kami pun datang menghadapnya, lalu kami melihat beberapa orang pemuka agama dan Amr bin Ash bersama sahabatnya berada di dekat raja seperti sebelumnya. Begitu kami tiba, Najasyi bertanya: “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?”

Ja’far rodhiyallohu’anhu mengatakan: “Kami mengatakan tentang Isa bin Maryam sebagaimana yang disampaikan kepada Nabi kami!”

Najasyi bertanya: “Apa pendapat Nabi kalian tentang Isa bin Maryam?” Ja’far pun menjawab: “Nabi berkata tentang Isa bahwa dia adalah hamba Alloh dan Rosul-Nya. Ia juga ruh dan kalimat Alloh yang diberikan pada diri Maryam yang suci dan perawan.”

Begitu Najasyi mendengar ucapan Ja’far ia berkata: “Demi Alloh, Isa bin Maryam tidak keluar dari apa yang diceritakan oleh Nabi kalian sedikitpun!” Maka para pemuka agama menghembuskan nafas keras dari hidung mereka pertanda tidak setuju begitu mereka mendengar ucapan Najasyi. Najasyi berkata: “Meski kalian menghembuskan nafas dengan kesal!” Kemudian Najasyi menoleh dan berkata: “Keluarlah, kalian semua aman! Siapa yang mencaci kalian akan terkena sanksi. Siapa yang menyerang kalian akan dihukum! Kemudian Najasyi melihat ke arah Amr dan sahabatnya sambil berkata: “Kembalikan hadiah kedua orang ini, aku tidak membutuhkannya!”

Ummu Salamah berkata: “Maka keluarlah Amr dan sahabatnya dengan putus asa dan merasa kesal, sedangkan kami terus tinggal di wilayah Najasyi dengan perlindungan yang terbaik.”

Mereka tinggal selama 10 tahun dalam perlindungan Najasyi. Pada tahun 7 H, mereka meninggalkan Habasyah bersama rombongan kaum muslimin untuk hijrah ke Yatsrib.

Partisipasi Kebaikan, Infak Dakwah Melalui ELSSI Di Sini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Yuk sedekah untuk program bermanfaat elssi peduli