Kondisi Salafusholeh dalam Menyambut Bulan Ramadhan

ilustrasi-ramadhan-atau-ramadan

Bagaimanakah para salafus shaleh menyambut ramadhan?

Syaikh al-Fauzan pernah ditanya dengan pertanyaan yang serupa, beliau menjawab:

Keadaan salaf di bulan Ramadhan, sebagaimana hal itu telah tercatat dalam kitab-kitab yang diriwayatkan dengan sanad yang terpercaya bahwa para salaf senantiasa memohon kepada Allah  agar menyampaikan atau mengantarkan mereka sehingga bisa menjumpai Ramadhan, yaitu sebelum masuknya bulan itu.

Mereka meminta kepada Allah   supaya mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, karena mereka mengetahui bahwa di bulan itu terdapat kebaikan yang sangat besar dan kemanfaatan yang begitu luas.

Kemudian, apabila bulan Ramadhan sudah masuk mereka pun meminta kepada Allah untuk memberikan pertolongan dan bantuan kepada mereka dalam beramal salih di bulan tersebut. Kemudian, apabila Ramadhan usai mereka juga memohon kepada Allah agar menerima amalan mereka itu, sebagaimana Allah  firmankan yang artinya, “Dan orang-orang yang memberikan apa-apa yang sanggup mereka persembahkan sementara hati mereka itu merasa takut; bagaimanakah kiranya keadaan mereka ketika dikembalikan kepada Rabbnya. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan-kebaikan dan mereka berlomba-lomba untuk meraihnya.” (QS. al-Mu’minun : 60-61).

Mereka bersungguh-sungguh dalam beramal, kemudian setelah itu mereka dirundung oleh rasa cemas dan khawatir setelah beramal; apakah amalnya itu diterima ataukan tidak. Yang demikian itu dikarenakan mereka sangat mengetahui tentang agungnya kedudukan Allah  dan bahwasanya Allah   tidak akan menerima amal kecuali yang ikhlas untuk mencari wajah-Nya dan amalan yang benar sebagaimana tuntunan atau sunnah Rasul-Nya.

Oleh karena itu, mereka tidak menganggap dirinya suci, bahkan mereka merasa khawatir kalau-kalau amal-amal mereka itu terhapus atau tidak diterima. Oleh sebab itulah mereka sangat berharap agar amalnya bisa diterima, dan hal ini jauh lebih membuat letih pikiran mereka daripada sekedar melaksanakannya. Karena sesungguhnya Allah  berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah hanya akan menerima -amal- dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Ma’idah : 27).

Dan adalah mereka itu dahulu berusaha untuk meluangkan waktunya untuk bisa menikmati ibadah di bulan ini -sebagaimana sudah kami sampaikan- dan mereka pun mengurangi atau mempersedikit amal-amal atau urusan dunia.

Adalah mereka yaitu salafus shalih itu memadati waktu-waktu mereka dengan duduk di rumah-rumah Allah . Mereka mengatakan, “Kami ingin menjaga puasa kami, kami tidak ingin menggunjing siapa pun.” Dan mereka pun menhadirkan mushaf-mushaf untuk dibaca, dan mereka saling mempelajari kandungan Kitabullah `Azza Wajalla. Mereka senantiasa berusaha menjaga agar waktunya tidak terbuang sia-sia.

Mereka tidak suka membuang-buang waktu dan menyia-nyiakannya sebagaimana keadaan yang ada pada banyak orang di masa sekarang ini. Akan tetapi, mereka  yaitu salafus shalih berusaha menjaga waktu-waktu mereka; malam diisi dengan sholat malam, sedangkan siang hari diisi dengan puasa, membaca al-Qur’an, dzikir kepada Allah , dan berbagai amal kebaikan.

Mereka yaitu salafus shalih itu tidak mau menyia-nyiakan waktu di bulan Ramadhan itu walaupun sedetik saja atau sekejap, kecuali mereka selalu berusaha untuk bisa mempersembahkan amal salih di dalamnya.

Wallahu a`lam

Sumber: https://inilahfikih.com

Kategori

Yuk sedekah untuk program bermanfaat elssi peduli